Senin, 14 November 2011

EEG sebagai alat komunikasi Pasien vegetatif


Adanya metode untuk berkomunikasi dengan pasien yang mengalami kerusakan otak dan tampaknya berada dalam keadaan vegetatif (koma) telah ditemukan oleh para ilmuwan di Inggris dan Belgia. Para peneliti menggambarkan bagaimana mereka mengukur aktivitas listrik di otak untuk mendeteksi kesadaran. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal medis The Lancet.

Teknik yang dikenal sebagai EEG, tidak menyakitkan dan melibatkan pengaliran elektroda ke kepala. Dokter berharap hal tersebut dapat digunakan sebagai alat diagnostik di rumah dan rumah sakit. Percobaan tersebut telah melibatkan 16 pasien di Addenbrooke's Hospital Cambridge dan University Hospital of Liege di Belgium. Semua pasien tersebut telah didiagnosa dalam keadaan vegetatif.

Keadaan vegetatif merupakan suatu kondisi dimana seseorang terjaga, tetapi tidak memiliki rasa kesadaran diri atau kesadaran dengan lingkungan mereka. Para pasien diminta untuk membayangkan jari-jari kaki mereka menggeliat atau meremas tangan kanan mereka. Aktivitas otak pada 3 dari 16 pasien menunjukkan bahwa, mereka berulang kali mampu mengikuti perintah.
Banyak daerah otak yang diaktifkan ketika seseorang melakukan gerakan, dan dapat juga diaktifkan dengan membayangkan melakukan suatu hal. Kami tahu 3 pasien sadar karena mereka mampu merespon berulang kali untuk instruksi yang kami berikan. Bahkan salah satu dari pasien mampu melakukan instruksi tersebut lebih dari 100 kali. Tim dari MRC Cognition and Brain Sciences Unit in Cambridge sebelumnya menduga bahwa, mungkin untuk berkomunikasi dengan beberapa pasien vegetatif menggunakan gambaran functional magnetic resonance imaging (fMRI). Tetapi pasien cedera otak yang tidak dapat dinilai dengan metode pemeriksaan tersebut karena mereka memiliki pelat logam atau pin, atau mereka tidak mampu untuk tetap diam.
Perangkat EEG merupakan alat yang relatif murah dan portabel. Hal tersebut menarik karena alat tersebut dapat digunakan ketika mengunjungi pasien di rumah jompo, dan menilai lebih banyak pasien yang tidak dirawat di rumah sakit. Sehingga perangkat tersebut dapat digunakan secara lebih luas karena merupakan perangkat portable. Untuk sebagian kecil pasien, EEG dapat menjadi alat yang sangat berguna dalam proses diagnostik. Namun perangkat tersebut akan menjadi tambahan alat yang berguna, bukan sebagai pengganti alat sebelumnya yang digunakan untuk menilai keparahan cedera otak pasien. Pendekatan tersebut telah menyarankan cara yang sederhana dan praktis di mana beberapa pasien dapat dibantu untuk berkomunikasi. Namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi dan mendukung hasil penelitian tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar